Minggu, 17 Juli 2016

Metode Pembelajaran Inkuiri

Rangkuman Makalah Pembelajaran Inovatif II
Metode Pembelajaran Inkuiri




Dosen Pembimbing:
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh:
1.      Ahmad Didit Chayono.                NIM:  1431005
2.     Anni’mah Manzila Putri                NIM:  1431014
3.      Imro’atus Sholichah                      NIM:  1431038
4.      M. Arya Setiawan Abadi              NIM:  1431054
5.      Nia Erlita Parastuti                        NIM:  1431056


STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website :http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016




Metode Pembelajaran Inkuiri

Sejarah
       Model inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Richad Suchman pada tahun 1962 yang memandang hakikat belajar sebagai latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan.

Pengertian
Metode pembelajaran inkuiri adalah metode pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah.

Karakteristik
  1.       Jawaban yang dicari siswa tidak diketahui terlebih dahulu
  2.       Siswa berhasrat untuk menemukan pemecahan masalah
  3.       Suatu masalah ditemukan dengan pemecahan siswa sendiri
  4.       Hipotesis dirumuskan oleh siswa untuk membimbing percobaan atau eksperimen.
  5.      Para siswa mengusulkan cara-cara pengumpulan data dengan mengumpulkan data, mengadakan pengamatan, membaca atau menggunakan sumber lain
  6.     Siswa melakukan penelitian secara individu atau berkelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut
  7.       Siswa mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan.

Prinsip-Prinsip
  1.       Berorientasi pada pengembangan intelektual
  2.       Prinsip interaksi
  3.       Prinsip bertanya
  4.       Prinsip belajar untuk berpikir
  5.       Prinsip keterbukaan.

Kelebihan
  1.    Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan untuk hasil akhir
  2.    Perkembangan cara berfikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan menyimpulkan/memperoses keterangan dengan metode inkuiri dapat dikembangkan seluas-luasnya
  3.    Dapat melatih anak untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat mengembangkan pendidikan demokrasi.

Kelemahan
  1.      Belajar mengajar dengan metode inkuiri memerlukan kecerdasarn anak yang tinggi. Bila anak kurang cerdas, hasilnya kurang efektif
  2.       Metode inkuri kurang cocok pada anak yang usianya terlalu muda, misalnya anak SD.

Langkah-Langkah

  1.     Orientasi, langkah ini untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif sehingga dapat merangsang dan mengajak untuk berpikir memecahkan masalah.
  2.    Merumuskan masalah, langkah ini membawa siswa pada persoalan yang mengaandung teka-teki.
  3.     Mengajukan hipotesis, langkah ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan permasalahan yang telah diberikan.
  4.      Mengumpulkan data, aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotessis  myang diajukan.
  5.     Menguji hipotesis, proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
  6.   Merumuskan kesimpulan, proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Pembelajaran Penemuan Terbimbing

Rangkuman Makalah Pembelajaran Inovatif II
Pembelajaran Penemuan Terbimbing



Dosen Pembimbing:
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh:
1.      Aizzatur Rohmah                          NIM 1431009
2.      Mauidatul jannah                          NIM 1431049
3.      Muhammad Zailan Novianto        NIM:  1431048
4.      Ristia Havadoh Ervina                  NIM:  1431069


STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016




Pembelajaran Penemuan Terbimbing

Pengertian
Metode penemuan terbimbing merupakan kegiatan yang membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran, di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan intensif guru.

Sejarah
Model penemuan merupakan model belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Model ini menghendaki keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip, sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Cara ini sudah digunakan puluhan abad yang lalu dan Socrates dianggap sebagai pemula dalam penggunaan metode ini. Bruner  mengatakan bahwa penemuan adalah suatu proses, suatu cara, atau pendekatan pemecahan masalah, bukan hasil kerja.

Karateristik
  1.       Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;
  2.       Berpusat pada siswa;
  3.       Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Prinsip-Prinsip
  1.       Metode penemuan terbimbing ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip
  2.       Metode pembelajaran penemuan merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar.

Langkah-Langkah
1. Fase 1: pemberian rangsangan (stimulation)
  1.       Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
  2.       Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
  3.       Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

2. Fase 2: identifikasi masalah (problem identification)
  1.       Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk diajukan.

3. Fase 3: pengumpulan data (data collection)
  1.       Ketika eksplorasi berlangsung guru berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
  2.       Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan data berbagai informasi hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
  3.       Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pertanyaan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang relevan, membaca literature, mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4. Fase 4: pengolahan data (data processing)
  1.       Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dari sumber-sumber informasi yang kemudian ditafsirkan.

  5. Fase 5: pembuktian (verification)
  1.       Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.
  2.       Verifikasi Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpaidalam kehidupannya.

         6. Fase 6: menarik kesimpulan (generalization)
  1.       Menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
  2.       Berdasarkan hassil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari verifikasi.